YESUS BERTEMU MURID-MURID YANG PERTAMA Yoh. 1:35-51


Perikop Injil Yoh.1:35-51 dibagi dalam dua bagian besar. Bagian pertama dimulai dari Yoh. 1: 35-42. Pada bagian ini Yohanes mewartakan Yesus sebagai Anak domba Allah (1:36) kepada kedua muridnya serta reaksi mereka untuk mengikuti Yesus dan bersaksi tentang Dia.  Bagian ini terjadi di Yudea, tempat Yohanes Pembabtis tampil. Bagian kedua Yoh 1: 43-45. Bagian ini menceritakan panggilan murid yang lain (Filipus) yang kemudian memberikan kesaksian tentang Dia.[1] Panggilan ini terjadi di Galilea dan juga melambangkan instruksi bagi jemaat Kristen bukan Yahudi.

Murid-murid Yohanes Pembaptis mengikuti Yesus dan bersaksi tentang Dia, 1:35-42 (Bagian yang pertama ini berlokasi di tempat Yohanes Pembaptis tampil, yaitu di Yudea (ay 28). Daerah ini merupakan daerah kokoh Yahudi. Semua pelaku dalam Injil ini pun bernama Ibrani atau Aram, seperti Andreas, Simon, Kefas, dan Yohanes).

Bagian ini diawali dengan kesaksian Yohanes tentang pribadi Yesus. Yohanes Pembabtis bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah.[2] “Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yoh. 1: 36) yang merupakan bentuk metafora pribadi Yesus sebagai seorang guru. Hal ini dilakukannya agar kedua muridnya memahami siapakah Mesias yang dia serukan selama ini dan mereka langsung mengikuti Yesus (1:37). John the Baptist was without jealousy; he had encouraged his disciple to follow Jesus, and later these first two brought the others.[3] Terhadap keberanian keputusan kedua murid ini, Yesus pun bertanya “Apakah yang kamu cari?” (Yoh. 1: 38). Mencari, dalam bahasa Yunani, zeteo, biasa dipakai untuk mencari sesuatu yang hilang atau salah tempat tetapi juga sering dipakai untuk pembelajaran filosofis atau pertanyaan-pertanyaan keagamaan.[4] Maksud dari pertanyaan ini adalah untuk mengetahui motif merka mengikuti Dia. Namun, karena keputusan mereka sudah bulat, mereka balik bertanya “Rabi dimanakah Engkau tinggal?” (Yoh.1: 38). Rabi (kurie) adalah term yang sering digunakan untuk menghormati seseorang secara langsung dan pada bgian ini penginjil mengambilnya sebagai ekspresi kesopanan untuk menggambarkan pertemuan dengan Yesus.[5] Sementara itu, kata tinggal, dalam bahasa Yunani berarti meno, menggambarkan kejadian penting tertentu dalam sejarah penyelamatan.[6] Yesus merespon kesungguhan mereka dengan sebuah ajakan “Marilah dan kamu akan melihatnya.”(Yoh. 1:39). Melihat dalam pengertian penginjil berarti percaya.[7] Ini dimaksudkan bahwa mereka percaya dengan sungguh-sungguh, Yesus adalah Mesias. Ada dua hal yang digarisbawahi disisni, pertama, pemuridan merupakan suatu perjalanan, suatu petualangan di mana si murid mempercayakan arah perjalanannya kepada sang guru. Kedua, pemuridan meliputi kesempatan untuk mengalami sendiri. Ajakan Yesus terhadap kedua murid tesebut juga telah menjadi ajakan bagi semua manusia tanpa batas umur. Jesus’ invitation to “come and see” extends to all of us in every age. We are all called to be   his disciples, to come to Jesus and stay close to him. As we do, he will reveal himself to us and teach us, enabling us to be more like him. As a young boy, the Old Testament prophet Samuel learned this lesson, responding to the Lord’s call with an open ear and open heart (1 Samuel 3:10).[8]

 Panggilan Murid-Murid yang lain dan kesaksian mereka akan pibadi Yesus 1:43-51. (Berlangsung di Galilea. Betsaida (ay. 44). Sebuah kota yang sebagian besar penduduknya kafir).

Pada bagian pertama murid Yohanes rasul mengambil inisiatif untuk mengikuti Yesus. Pada bagian yang kedua ini, Yesus mengambil prakarsa untuk memanggil Filipus dengan ajakan sederhana, ikutlah Aku. Mengikuti (akoloutheo: Yunani) berarti menyusul seseorang. Pada konteks ini kata ini bermakna metafora yang berarti menjadi murid Yesus.

Pemanggilan Andreas adalah pemanggilan seorang murid yang telah mengikuti semua kegiatan permuridan. Pada pemanggilan Filipus, mewakili awal yang baru dalam cerita penginjil karena YESUS menggunakan model klasik untuk memanggilnya, ikutlah Aku. Setelah Filipus dipanggil, terjadi reaksi berantai di mana Filipus berjumpa dengan Nathanael dan mengemukakan klaim bahwa Yesus-lah yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi (sebutan kelima terhadap Yesus).[9]  Kata-kata ini merupakan uraian dari pengakuan Andreas dalam ayat 41 tentang Mesias. Seperti Andreas dan Filipus berbicara mengenai Yesus dalam istilah Mesias yang tradisional. Mereka mengklaim bahwa Mesias yang lama dinantikan itu adalah Yesus dari Nazaret. Namun klaim Filipus ini menggelisahkan Natanael karena tidak ada sesuatu yang penting yang dapat diharapka dari Nazaret. Untuk menanggapi sikap skeptik Natanael, Filipus meniru kata-kata Yesus, “marilah dan ikutlah”. Sebagaimana dapat dikatakan bahwa dalamYohanes 1:35-42 tokoh-tokoh terpenting di samping Yesus adalah Andreas, Simon, Kefas dan Yohanes bernama Ibrani atau Aram. Demikian pun sebaliknya dalam Yohanes 1:43-51 ini tokoh-tokoh lain selain Yesus adalah Filipus dan Natanael yang bernama Yunani. Mengenai Natanael dikisahkan bahwa pada saat dia datang Yesus berkata kepadanya “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”. Kata-kata Yesus tersebut sebenarnya memiliki implikasi sampai pada kehidupan kita sekarang.

 

Gagasan-Gagasan Pokok Yang Menghubungkan Kedua bagian Dari Yoh. 1:35-51.

Gagasan pokok yang menghubungkan kedua bagian ini ialah Yesus adalah Anak Domba Allah dan Mesias yang datang dari Nazaret. Kehadiran Yesus menyatukan semua kisah atau kejadian dari setiap bagian itu. Reaksi berantai dari para murid pun menghubungkan kedua bagian itu. Pada bagian pertama, para murid menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah. Titel Yesus itu pun berlanjut pada bagian kedua, yang menyebut Yesus sebagai Mesias. Secara lebih terperinci lagi dapat dibagi seperti berikut:

  • Yohanes Pembabtis memperkenalkan Yesus kepada murid-muridnya dan direspon dengan mengikuti dan memberi kesaksian tentang Yesus.
  • Yesus memanggil Filipus dan Natanael menjadi pengikut-Nya. Mereka merupakan representasi jemaat non-Yahudi
  • Yesus menjanjikan bahwa murid-murid-Nya akan melihat hal-hal  yang lebih besar lagi.

Tentang Yohanes Pembaptis.

Yohenes pembabtis, anak Elisabet dan Zakharia, adalah bentuk pengabulan doa mereka yang menghendaki keturunan. Sebagai sepupu Yesus karena Elisabet adalah saudara Maria ibu Yesus, Yohanes pembabtis adalah rekan masa kecil Yesus. Yohanes Pembabtis merupakan manusia pertama yang mengenali Yesus sebagai Anak Allah dan Mesias. Dialah yang menjadi pintu gerbang bagi Yesus untuk memulai karya-Nya ketika Yesus dibabtis di sungai Yordan. Pada saat yang sama, Yohanes Pembabtis menjadi saksi hidup pengukuhan Yesus sebagai Putra Allah. Kehadiran Yohanes Pembabtis sangat penting karenna ia menjadi tokoh  sentral dalam proses perkenalan Yesus dengan dunia.

Ia juga merupakan orang yang diramalkan dalam nubuat Yesaya (Luk. 3:4-6; Yoh. 1:23) sebagai pribadi yang menyiapkan jalan bagi karya kegembalaan Yesus di dunia. Untuk itu, Yohanes Pembabtis mengutuk semua dosa dan kesalahan manusia (Mk. 6:18; Mat.14:4) serta menyerukan pertobatan. Sebagai perintis karya keselamatan Yesus, Yohanes Pembabtis tampil sebagai seorang pembela dan yang mengembalikan iman orang Israel lewat pembabtisan di sungai Yordan.


       [1]A. S. Widiwiyata, Tafsir Injil Yohanes, Cet.I (Yogyakarta: Kanisius, 2008), pp.32-34.

       [2]Ibid, p. 33.

[3]Patricia Grogan, Christian Community Bible, Ed. XVII, (Quezon City 1101: Claretian Publication, 1995), p.187.

       [4] Raymond F. Collins, John and His Witness (Makati City:ST.Pauls, 1996), p. 42

       [5] Ibid,. p.37.

       [6] Ibid,. p.42

       [7] Raymond E. Brown, The Gospel and Epistles of John (Makati City:ST.Pauls, 1994), p.27

       [8]Leo Zanchettin (ed.), John: A Devotional Commentary, Meditations on the Gospel According to St. John, (USA: The Word Among Us, 2000), p.24.

       [9]Ibid., p.35.

Perkawinan Monogam dan Seks Sebagai Media Cinta Kasih


  1. I. Pendahuluan

Perkawinan secara menyeluruh memuat sejumlah aspek kemanusiaan manusia. Secara kodrati itu menjadi tuntutan fundamental manusia yang membutuhkan orang lain sebagai rekan dalam kelangsungan hidup. Hal ini dimulai dengan menyeleksi dan memilih satu pribadi yang dinggap pantas menjadi partner yang dapat saling memahami, memiliki dan memberi. Relasi yang terbentuk melalui perkawinan membutuhkan pengorbanan lahir batin. Maka ketika perkawinan itu dilihat dari konteks keutuhan pribadi manusia, perkawinan adalah familiaris consortio atau kesenasiban hidup keluarga yang melibatkan jiwa-raga dalam arti yang sesungguhnya.[1] Penyerahan diri yang total kepada pasangan adalah konsekuensi logis memulai sebuah jalinan cinta kasih. Karena itu, perkawinan merupakan gejala serba majemuk dalam personalitas seorang manusia.

Tuntutan menjalin relasi bersama pasangan memposisikan manusia pada sebuah pemenuhan janji kesetiaan terhadap pasangan hidup menikah. Hakekat perkawinan Katolik yang monogam dan tak tercerikan menuntut sebuah konsekuensi yang tidak ringan. Konsili Vatikan II memaklumkan hakekat perkawinan, meskipun ada suara-suara yang menganjurkan perceraian dalam situasi sulit, tetap pada hasil kontistusinya untuk mempertahankan pola relasi ini demi pemenuhan rahmat kerajaan Allah. Pendasaran ini kokoh berdiri diatas pandangan cinta Allah terhadap Israel sebagai umat pilihan yang tetap saja setia dan tidak meninggalkan mereka. Kesetiaan manusia menjadi jawaban mutlak terhadap cinta Allah yang demikian itu.

Sakramen perkawinan yang diteguhkan dalam perjanjian mendapat realisai dalam relasi intim suami istri. Hubungan ini menjadi simbol keutuhan dan penyempurnaan cinta kasih pasangan suami istri. Prokreasi dan erotisme bukan menjadi tujuan utama lagi dalam perkawinan. Seks yang ada pada manusia menjadi tindakan khas suami isatri untuk mengabil bagian dari karya agung Allah dalam mewartakan keselamatan. Keseluruhan aspek manusiawi dan ilahi dalam diri manusia hanyut dalam jalinan mesra cinta yang diungkapkan dalam persetubuhan. Pemenuhan ini menjadikan kesatuan yang sempurna suami istri sebagai jawaban atas janji sakramental yang telah diucapkan.

 

  1. II. Perkawinan dalam Gereja Katolik

2.1. Perkawinan sebagai Sebuah Perjanjian

Perkawinan dalam Gereja Katolik mengalami perubahan makna. Awal sejarah gereja melihat perkawinan sebagai kontrak. Kontrak yang terjdi bermakna persetujuan antara pria dan wanita untuk sekedar hidup bersama dengan tujuan utamanya prokreasi. Menghasilkan keturunan menjadi fokus utama kontrak. Nilai perkawinan semata-mata hanya untuk pelestarian hidup manusia. Secara perlahan pandangan dalam gereja mulai bergerak ke arah yang lebih dalam. Gereja memperdalam makna kontrak sebagai sebuah perjanjian (covenant feodus) atau sebuah pakta yang membentuk satu persekutuan hidup dan cinta yang mesra.[2] Gereja juga memperdalam tujuan perkawinan dengan tetap memperhatikan tujuan awal perkawinan yaitu prokreasi tetapi juga menekankan peran saling menolong sebagai suami istri dan obat penawar nafsu seksual.[3] Secara kodrati seks merupakan sebuah tindakan fisik-badaniah tapi maknanya jauh lebih dalam sebab memiliki daya menyembuhkan, menyejukkan dan menenteramkan hati.[4]

Pandangan ini ditegaskan dalam Gadium et Spes 49 pada konstitusi pastoral tentang gereja di dunia dewasa ini yang menegaskan seks sebagai suatu tindakan khas dalam perkawinan untuk meluhurkan dan mengormati hubungan suami istri yang dijalankan secara sungguh manusiawi serta tanda penyerahan diri yang timbal balik.[5]

 

2.2. Relasi Persona

Perkawinan yang sakramental mengindikasikan satu relasi inter subyek pria dan wanita. Kodrat relasii ni dibangun atas dasar hak atas tubuh (ius in corpus) yang dipahami sebagai pemberian dan pernyerahan diri secara total. Penyerahan diri secara total berarti mengungkapkan kesatuan dua persona.[6] Ungkapan penyerahan diri secara total ini terungkap dalam hubungan intim suami istri sebagai mana tertuang dalam Kanon 1061 § 1 yang menyatakan bahwa perkawinan ratum et consumatmum sebagai penyempurna perkawinanan sakramental.[7] Mereka bukanlah dua melainkan telah menjadi satu persona dalam ikatan perjanjian yang luhur. Penekanannya pada komitmen dan tanggung jawab pribadi.

 

2.3. Monogam dan Tak Tercerikan

Ciri perkawinan sakramental gereja Katolik ialah monogam dan tak terceraikan. Perceraian dalam gereja Katolik merupakan satu bentuk pengingkaran perjanjian. Kanon 1056 menegaskan ciri ini demi terciptanya perkawinan yang luhur dan kekal.[8] Sifat ini menegaskan satu kesatuan utuh dalam ikatan perkawinan yang telah diikat melalui sakramen sebagaimana yang talah dirangkum dalam Kanon 1056 dan 1057 § 1dan 2.[9] Perkawinan merupakan lambang ikatan cinta Allah kepada umatnya. Pernyataan cinta ini sungguh-sungguh mewakili cinta Allah yang setia dan menyelamatkan (Hos.2:16).[10] Pemberian diri untuk dimiliki teraplikasi secara nyata dalam kesetiaan dan saling menerima yang tulus tak akan dapat ditarik kembali. Persekutuan suami istri dalam dialog keintiman yang dibangun atas dasar ini menghilangkan egoisme masing-masing pribadi. Keutamaan cinta yang tunggal terhadap pasangan akan menjawab setiap kebutuhan unsur-unsur seksual, personal dan sosial.

  1. III. Seks: Media Cinta Kasih Suami Istri

3.1. Sakralitas Seks

Hubungan intim suami istri mengalami transisi dari sekedar pelampiasan hasrat seksual yang erotis dan manusiawi menjadi konsep yang lebih mulia. Allah menjadi intim dengan umatnya karena pada saat inilah janji pekawinan terungkap. Ini menggemakan misteri inkarnasi, Tuhan mengambil wujud manusia.[11] Hubungan intim suami istri menyempurnakan cinta kasih dan memperkaya tiap pribadi dalam unsur dan tanda-tanda istimewa persahabatan suami istri.

Lebih lanjut, Yohanes paulus II menegaskan bersatunya tubuh suami dan istri menjadi satu daging dalam hubungan intim mereka yang sah memperlihatkan hubungan antara Kristus dan gerejanya.[12] Pernyataan paus ini semakin mempelihatkan keutamaan dan dimensi sakralitas hubungan intim antara suami dan istri. Penyataan cinta ini menjadi sesuatu yang tansenden dan memiliki orientasi yang luhur karena bukan saja ditujukan demi kenikmatan cinta eros dan prokresi. Bersatunya suami istri menjadi satu daging ikut mengambil bagian dalam pewartaan gereja.

 

3.2. Penyerahan Diri Total dan Saling Memiliki

Pada dasarnya, setiap manusia hanya mungkin mewujudkan kepenuhan dirinya lewat relasi dengan orang lain. Syarat mutlak keutuhan relasi suami istri terungkap dalam pemberian hak atas tubuh. Seks memberikan kontribusi penyatuan dua persona menjadi satu pribadi yang utuh. Penyerahan diri total sebagai persona kepada pasangan mewujudkan kesatuan paling dasariah dua persona dalam kungkungan jalinan cinta kasih yang tulus. Seks merupakan puncak pemberian diri total untuk saling memiliki sekaligus membuka ruang antara suami istri untuk saling mengisi kekosongan jiwa yang mebutuhkan belaian intim cinta pribadi lain.

Pengenalan yang mendalam terhadap pasangan menjamin kekudusan cinta Allah kepada manusia yang tinggal bersama dengan mereka. Persekutuan suami istri dikuatkan dan disemangati dalam semangat inkarnasi dan penebusan yang meresapi seluruh bagian kehidupan suami istri dengn iman, harapan dan cinta kasih.[13]

 

3.3. Penguat Perjanjian

Janji perkawinan yang diucapkan pasangan suami istri saat menerima sakramen perkawinan mendapat realisasi untuk saling menerima dan menyerahkan diri secara total dalam persetubuhan. Persetubuhan antara suami istri menjamin perjanjian yang diucapkan bersama dan tidak dapat ditarik kembali. Pemenuhan janji Allah dan jawaban manusia sungguh-sungguh terimplementasi dalam relasi intim pasangan suami istri. Allah sungguh-sungguh hadir melalui perjanjian atas dasar penyerahan diri secara total dan keterbukaan pasangan suami istri. Perjanjian (covenant feodus) mendapat jaminan yang istimewa sekaligus berahmat dalam persetubuhan. Seks telah meninggalkan makna erotisme dan bertumbuh ke arah yang kudus sebagai ungkapan cinta kasih yang mesra suami istri.

Sepanjang hidup perkawinan janji itu terus diperbaharui dan senantiasa mendapat semangat baru. Kanan 1055 menegaskan sekali lagi bahwa perjanjian perkawinan antara suami dan istri secara kodrati mengarahkan suami istri pada kesejahteraan dalam cinta Yasus Kristus di antara orang-orang yang telah dibabtis.[14]

 

  1. IV. Penutup

Cinta kasih Allah menjadi sempurna dalam ungkapan cinta suami istri. Persetubuhan menjadi kudus dan berhasil menjadi perantara dalam mengugkapkan personalitas manusia dalam relasi intim suami istri yang mesra. Cinta kasih suami istri yang sejati yang terungkap dalam pemberian diri secara total akan diangkat tinggi dengan mengedepankan kesaksian kesetiaan dan kemesraan dalam cinta itu. Seks telah menjelma menjadi bahasa iman yang menghantar manusia pada taraf yang lebih tinggi untuk hidup dalam persatuan dan perjanjian yang kudus. Gereja menjadi sungguh manusiawi sekaligus ilahi karena penghayatan cinta kasih yang mengantar suami istri kepada pencerahan makna terdalam yang terungkap dalam persetubuhan. Hubungan suami istri terselenggara secara sempurna dalam cinta Allah yang menyelamatkan. Keutuhan perkawinan yang monogam dan tak terceraikan mendapat pemaknaan sakramental melalui aktus menjadi satu badan oleh dua persona yang saling terbuka dan memberi dalam persetubuhan dan jalinan cinta mesra.

 

Daftar Pustaka

  1. Dokumen

Dokumen Konsili Vatikan II (penerj. R. Hardawiryana).Jakarta:Obor,2002.

Sekertariat KWI. Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: Obor, 2003.

  1. Buku

Bria, Benyamin Yosef.  Pastoral Perkawinan Gereja Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik 1983: Kajian dan Penerpan. Jakarta: Yayasan Pustaka Nusantara, 2010.

 

Maas, C, Teologi Moral Perkawinan. Maumere: STFK Ledalero, 1997.

 

Mirsel, Robert. Pasanganku Seorang Katolik. Maumere: LPBAJ, 2001.

 

Ramadhani, Deshi. Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II Yogyakarta: Kanisisus, 2009.

 

Sujoko, Albertus. Belajar Menjadi Manusia: Berteologi Moral menurut Bernard Haring, CSsR. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

 


[1] Albertus Sujoko, Belajar Menjadi Manusia: Berteologi Moral menurut Bernard Haring, CSsR (Yogyakarta: Kanisius, 2009), p.36.

[2] Mgr. Benyamin Yosef  ,Bria,Pr,  Pastoral Perkawinan Gereja Katolik menurut Kitab Hukum Kanonik 1983: Kajian dan Penerpan ( Jakarta: Yayasan Pustaka Nusantara, 2010), p. 33.

[3] Ibid., p.33

[4] Roberet Mirsel, SVD, Pasanganku Seorang Katolik ( Maumere: LPBAJ, 2001), p. 115.

[5] Dokumen Konsili Vatikan II. (penerj. R Hardawiryana), (Jakarta: Obor, 2002), p.572.

[6] Mgr. Benyamin Yosef Bria, Pr, Loc. Cit., p. 33.

[7] Sekertariat KWI, Kitab Hukum Kanonik (Jakarta: Obor,2003), pp.41-42.

[8] Ibid. p.41.

[9] Ibid.,p 304.

[10] Dr. C. Maas SVD, Teologi Moral Perkawinan ( Maumere: STFK Ledalero,1997), p.31.

[11]Deshi Ramadhani, Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II (Yogyakarta: Kanisisus, 2009), p.187.

[12] Ibid., p. 175.

[13] Dr. C. Maas, Op. Cit., p. 85.

[14] Ibid., p. 85

TANGGUNG JAWAB TERHADAP YANG LAIN: REFLEKSI FILOSOFIS KONSEP TANGGUNG JAWAB EMMANUEL LEVINAS


BAB I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Kelahiran konsumerisme dan pergeseran nilai etis terhadap manusia dan alam menandai hilanganya rasa tanggung jawab etis. Kecenderungan untuk menghindari tanggung jawab individu yang mesti diemban semestinya telah berakar dalam pemikiran manusia sebagai dasar pola pikir dewasa ini. Perubahan paradigama ini menjadikan peradaban semakin kehilangan jati diri sebagai makhluk yang berakhlak. Fenomena ini semakin terasa berat untuk dihilangkan ketika tanggung jawab terhadap Yang Lain semakin dielakkan dan dijauhkan. Sekularisme radikal yang tak disaring menyeret ide setiap pribadi untuk bertindak dan berpikir tentang dirinya sendiri. Kesadaran akan kehadiran orang lain merupakan suatu halangan yang bisa menghambat setiap tujuan yang hendak dicapai. Dalam relasi keseharian, hanya berlaku relasi subyek-obyek baik dengan manusia maupun dengan dunia.

Dalam etika tradisional, terdapat banyak tuntutan untuk berpartisipasi dalam proses pemberian tanggung jawab. Berpartisipasi berarti bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan atau dikatakan. Hal ini menjadi penting ketika kita harus bertanggung jawab terhadap adanya Yang Lain. Yang Lain adalah subyek sebagaimana diri kita yang harus bertanggung jawab. Bagi Emmanuel Levinas (1906-1995), tanggung jawab dalam pengertian tradisional berhubungan dengan menjawab. Meski agak terbatas, seorang yang dikatakan bertanggung jawab kepada orang lain jika ia mau merespon atau memberi jawaban kepada orang lain. Ini lebih dari pada satu pemaknaan yang digoreskan dalam sesuatu yang dikatakan.[1] Berhadapan dengan orang lain sebagai subyek, individu subjektif dan otonom selalu sudah terikat tanggung jawab dan segala sikap yang diambil dalam kesadaran sehari-hari senantisa berdasar pada tanggung jawab tersebut. Tak mungkin seseorang bisa keluar dari lingkaran tanggung jawab selama masih terus berada dalam satu tatanan yang memberi arti, nilai, dan tujuan manusia itu sendiri. Pandangan sempit dalam etika tradisional digali kembali hingga mencapai dasar keberadaan konsep itu sendiri.

Levinas mempertajam arti tanggung jawab, mengapa kita mesti bertanggung jawab dan untuk apa kita bertanggung jawab? Tampak bahwa ini merupakan sebuah pemikiran yang radikal untuk menelaah konsep tanggung jawabnya. Tanggung jawab kita kepada orang lain dalam wajah yang hadir di hadapan kita dengan ekspresi-ekspresinya menjadikan kita berada sebagai subjek yang otonom. Wajah atau Yang Lain adalah seruan etis yang jadi gugatan terhadap otonomiku sebagai subjek sehingga aku menjadi akusatif dan harus keluar dan terbuka dengan dunia di luar diriku. Dalam fenomenologinya, Levinas hendak mengemukakan bahwa setiap manusia berfilsafat tidak ditujukan untuk memikirkan sesuatu melainkan lebih dari pada itu kita mengamati apa yang menunjukkan diri dan apa yang terjadi ketika kita bersama orang lain. Kerangka subjek-objek didobraknya dan mengarahkan setiap manusia ke dalam relasi subjek-subjek. Pengandaian ini membuka cakrawawala baru melihat munculnya orang lain di hadapan kita.

Penampilan orang lain justru mengadakan aku. Kesadaranku juga mengandaikan kesadaran orang lain. Orang lain yang ada di hadapanku tak boleh kubiarkan begitu saja. Aku akan menjadi aku justru saat orang lain ada. Secara sadar manusia terus bersosialisasi dengan manusia lain sebagai suyek yang otonom. Ini merupakan proses pembalikan dari semua nilai, arti dan pengaruh orang lain. Aku sebagai subyek memahami sungguh diriku ketika proses internalisasi seperti ini berlangsung. Pengakuan menjadi sebuah anugerah yang diterima manusia dari manusia lain dan sekaligus sebuah bentuk tanggung jawab yang melekat secara a priori dalam setiap pribadi. Maka orang lain mengadakan aku jika aku bertanggung jawab terhadap mereka.

Penulis kembali tergugah akan kehadiran orang lain sebagai seorang individu subyektif dan otonom. Hal ini sejalan dengan ide dasar yang dibangun Emmanuel Levinas dalam konsep tanggung jawabnya. Maka penulis berani mengangkat tema ini di bawah judul “tanggung jawab terhadap yang lain: refleksi filosofis konsep tanggung jawab Emmanuel levinas”.


1.2.Tujuan Penulisan

Sebagai sebuah karya ilmiah, tulisan ini mengandung beberapa tujuan. Tujuan tersebut terdiri atas dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Pertama, tujuan khusus dari tulisan ini adalah menguraikan konsep Yang Lain dan tanggung jawab terhadap Yang Lain dalam terang konsep tanggung jawab Emmanuel Levinas. Ini merupakan sebuah usaha untuk melihat kembali relasi manusia sebagai makhluk yang bertanggungjawab.

Kedua, tujuan umum terdiri dari dua yaitu: pertama, sebagai salah satu persyaratan untuk melanjutkan pendidikan di STFK Ledalero dalam penulisan skripsi. Kedua, tulisan ini ingin meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam melihat orang lain.

1.3. Metode Penulisan

Penulis memakai metode kepustakaan. Penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan membaca sejumlah literatur yang berkaitan dengan tema yang diangkat dalam tulisan ini. Literatur yang dipakai berkaitan dengan pemikiran-pemikiran Emmanuel Levinas dan karya-karya lain yang berkaitan dengan tema tulisan.

1.4. Sistematika Penulisan

Tulisan ini terdiri dari empat bab:

Bab I adalah pendahuluan sebagai latar belakang penulisan dan penggagasan judul, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II berisi uraian singkat tentang Emmanuel Levinas dan pemikirannya tentang Yang Lain dan konsep tanggung jawabnya. Dalam bab ini juga penulis mencoba untuk mendalami konsep-konsep Emmanuel Levinas untuk pembahasan pada bagian berikutnya.

Bab III penulis menguraikan pengertian tanggung jawab dan keterkaitan konsep tanggung jawab Levinas dengan Yang Lain. Pada bagian ini penulis mencoba untuk menguraikannya dalam beberapa point yang dianggap penting sebagai inti tulisan ini.

Bab IV merupakan bab penutup di mana penulis menguraikan kesimpulan akhir. Bagian ini merupakan penegasan kembali terhadap konsep yang telah ditulis dalam karya ini.

BAB II

Mengenal Emmanuel Levinas

2.1. Riwayat Hidup

Emmanuel Levinas lahir pada tahun 1906 Kaunas, Lithuania dari sebuah keluarga Yahudi. Ia belajar di Universitas Strasburg pada tahun 1923 dan pada tahun 1928-1929, selama dua semester ia belajar di Freiburg, Jerman, pada Edmund Husserl dan Martin Heidegger.[2] Pada tahun 1940 ia menjadi tawanan perang Jerman selama lima tahun. Pada tahun 1947, ia menjadi dierektur “Ecole Normale Israelite Orientale” di Paris. Setelah disertasinya Totalite et Infini terbit tahun 1961, ia diangkat menjadi guru besar filsafat di kota Poiters. Levinas meninggal pada tanggal 25 Desember 1995.

Filsafatnya boleh dikatakan sebagai sebuah permenungan yang muncul sebagai akibat sikap kritisnya terhadap tradisi filafat barat. Levinas mendasari permenungannya itu dari tradisi Yahudi dan sejumlah sastrawan Rusia yang terkenal seperti Pushkin, Lermontov, Gogol, Leo Tolstoy khusunya Destoyevski.

2.2. Kritikan Terhadap Husserl dan Heidegger

Bagi Levinas, pembentukan identitas kita selalu sudah berdasarkan sebuah peristiwa asali yang terulang setiap kali kita bertemu dengan orang lain. Saya sadar bahwa saya bertanggungjawab atasnya. Itulah intuisi inti dalam filsafat Levinas. Dalam pendekatannya itu, Levinas memakai pendekatan fenomenologis. Ia bertolak dari Husserl dan Heidegger.

Levinas mengakui penemuan Husserl untuk mencari hakekat realitas dengan memperhatikan apa yang nyata-nyata menampakan diri dalam realitas (fenomen).[3] Hal ini diikuti oleh Levinas. Kritikan Levinas justru bermula dari sini. Ia menganggap Husserl terlalu cepat dan berhenti pada struktur kesadaran sehingga tidak berhasil mengangkat struktur realitas yang sebenarnya. Karena itu, terjebak dalam relasi subyek-objek.[4] Sementara untuk Heidegger, Levinas melihat bahwa Heidegger hanya memperhatikan orang lain dalam cakrawala kemengadaan. Dengan demikian, keberlainan orang lain tidak terjamin sehingga orang lain tidak terjamin lagi.[5]

2.3. Etika sebagai Filsafat Pertama

Aristoteles menemukan metafisika sebagai filsafat pertama. Bagi Aristoteles metafisika merupakan pencari penyebab pertama yang menentukan keberadaan segala sesuatu. Hakekat ta meta phisika adalah to on hei on, pengada sebagai pangada. Saat Christian Wolff memakai term ontologi untuk ada yang merujuk pada ide Aristoteles sehingga metafisika dipahami sebagai ontologi, ilmu tentang pengada (being).[6]

Emmanuel Levinas hadir sebagai orang pertama yang menandai pergeseran penting ontologi ke etika. Etika  1991 hubungan praktis satu sama lain-hubungan yang ada sebelum ontologi.[7] Ia mengafirmasi berakhirnya filsafat sebagai metafisika-ontologis. Karena itu, etika (metafisika etis) dinilainya sebagai filsafat pertama. Kelahiran etika terjadi karena ada suatu tanggapan terhadap kehadiran pihak lain. Etikanya didasarkannya pada suatu realitas heteronom yang berada di luar aku. Realitas itu adalah “Yang Lain”. Keberadaan Yang Lain merupakan ketakberhinggaan, yang tak dapat saya jangkau dengan pikiranku. Ia datang dari atas atau dari seberang sana.[8] Yang Lain sebagai yang tak berhingga adalah Dia yang Yang Lain. Dengan ini, Levinas dengan tegas dan jelas menampik filsafat identitas. Yang Lain senantiasa unik; orang lain senantiasa dalam keberlainannya. Filsafat identitas merupakan fakta dibalik berbagai bentuk pendasan, permusuhan, pendiskriminasian dan totaliter.[9] Hal ini, dinilainya tak berlebihan karena ia seorang Yahudi yang masih memiliki trauma pasca dicurigai, ditekan, dan dibunuh oleh rezim Hitler.

Pengaruh aliran fenomenologi Husserl dalam mencari hakekat realitas dengan memperhatikan apa yang nyata menampakan diri dalam kesadaran (fenomen) “menyadarkan” Levinas akan pantingnya kehadiran orang lain. Levinas melihat pemikiran Husserl terperangkap dalam kerangka subjek-objek. Terjadi objektivikasi dan senantiasa terkurung dalam penjara kesadaran. Objek menjadi kehilangan kediriannya. Demikian pula halnya dengan konsep Heiddeger yang dinilai Levinas juga mengabaikan orang lain karena orang lain dianggap hanya salah satu pengada dalam cakrawala “kemengadaan”. Meski Levinas memakai metode fenomenologis dalam kajiannya, ia mengatakan orang lain yang hadir sebagai orang lain adalah fakta dasar kesadaran kita yang masuk ke dalam duniaku.

2.4. Konsep Yang Lain

Yang Lain merupakan eksistensi yang berada di luar diriku. Keberadaan Yang Lain memberikan makna akan keberadaan subyek sebagai yang otonom. Aku menjadi ada karena pengakuan dari pihak luar diri. Pengakuan itu datang dari Yang Lain. Yang Lain menjadi simbol keberadaanku yang nyata.

2.4.1. Yang Lain sebagai yang Heteronom[10]

Aspek heteronomi di sini dimengerti dengan merujuk pada makna tentang Yang Lain sebagai Yang Lain secara radikal. Hal itu nampak dalam keberlainannya. Keberadaan Yang Lain memiliki ciri transendensi yang dipahami sebagai keberlainan radikal yang melampaui dari sekedar pemahaman ontologis dan memiliki dimensi dari atas.

2.4.2.Yang Lain Sebagai yang Eksterior[11]

Makna eksterior pada Yang Lain merujuk pada sesuatu yang trasenden. Realitas itu melampaui kesadaranku, yang tidak masuk dalam konteks pemahamanku. Yang Lain sebagai yang eksterior adalah yang trasenden, yang melampaui pengetahuanku.

2.4.3. Yang Lain sebagai yang Tak Berhingga[12]

Ketakberhinggaan atau “infini” dilihat sebagai jalan keluar atas kritik terhadap tradisi filsafat barat yang totalitas. Ketakberhinggaan Yang Lain adalah realitas yang abadi, independen dan lebih luas dari pemikiran manusia.  Meskipun demikian, pikiran manusia senantiasa diarahkan kepadanya. Keterbatasan pemikiran manusialah yang menjadikannya tak dapat dicapai kandati ide tentang ketakberhinggaan ini ada.

2.5.Wajah: Melihat Yang Lain

2.5.1. Wajah itu telanjang

Orang lain hadir di hadapan kita dengan menunjukan wajah sebagai identitas utamanya. Wajah orang lain yang tampak memberi himbauan agar diberikan respon yang positif. Ia hadir dan ada di depan kita secara utuh. Levinas mengungkapkan bahwa wajah sebagai “epiphanie”, penampakan orang lain. Penampakan wajah atau epifani memberikan sebuah permenungan, saya berjumpa dengan yang tak berhingga. Wajah itu menyapa kita. Namun, wajah itu tidak dipahami dalam pengertian fisis biologis. Wajah itu menyatakan diri sebagai visage significant, mempunyai makna secara langsung, tanpa penengah, tanpa suatu konteks.[13] Yang Lain itu tak mampu kita kuasai. Inilah sisi yang menunjukkan bahwa wajah menjadi telanjang; artinya wajah begitu saja.[14]

Kelurusan diri dari dalam merupakan kepolosannya dan kepolosannya adalah ketelanjangannya. Ketelanjangan wajah bukan karena ditelanjangi tetapi merupakan suatu ketelanjangan yang otentik, asli, polos dan murni. Ketelanjangan wajah memberikan kesan etis bahwa “engkau tidak boleh membunuh aku” yang tercermin  dalam pandangannya.[15]

2.5.2. Wajah itu terberi

Wajah yang hadir di hadapan kita datang dari satu dunia asing, dunia yang tak saya kenal, dia itu transenden, datang dari atas. Maka dia bukanlah sebuah ciptaan melainkan fakta. Ketakberhinggaan wajah merupakan jejaknya sendiri.

2.5.3. Wajah itu janda, yatim piatu dan orang asing

Janda, yatim piatu, dan orang asing memperlihatkan aspek kemiskinan dan ketakberdayaan pada orang lain. Dalam analisis fenomenologi wajahnya, Levinas amat menekankan aspek etis kehadiran orang lain. Karena itu, saya dituntut untuk memberi dia tanggapan.

BAB III

Tanggung Jawab kepada yang Lain

3.1.Pengertian Tanggung Tawab

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanggung jawab berarti, pertama, keadaan wajib menenggung segala sesuatunya. Kedua, fungsi menerima pembebanan, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain.[16]

Tanggung jawab memliki arti lain ketika konsep ini didasarkan dengan ide kewajiban dan kemungkinan untuk digugat. Tanggung jawab berarti tindakan-tindakan yang harus dan dapat dijalankan oleh suatu makhluk rasional. Kelalaian terhadap tindakan-tindakan ini dapat dikenakan hukuman. Sementara itu, jika tanggung jawab berhubungan dengan kehendak bebas berarti konsekuensi niscaya dari kehendak bebas manusia dan ketergugatan yang berlandaskan kehendak bebas.[17]

3.2. Tanggung Jawab “untuk” dan Tanggung Jawab “bagi”

Konsep tanggung jawab bagi Levinas dijelaskan dalam arti heteronom. Tanggung jawab “untuk” dan tanggung jawab “bagi” sepintas memiliki kesamaan arti. Untuk membedakannya, Levinas menganalogikan kedua konsep ini dengan term “menghakimi dan menghukum”. “Menghakimi” berarti kita berada di luar konflik sedangkan “menghukum” kita secara langsung berada di tengah-tengah konflik itu.[18] Bagi Levinas tanggung jawab “untuk” adalah satu konsep tanggung jawab yang lebih radikal dibandingkan dengan tanggung jawab “bagi”. Konsep tanggung jawab “untuk” orang lain berarti aku berinisiatif bebas untuk bertanggung jawab dari dalam diriku ketika saya melihat dia “telanjang” di depanku (yang miskin). Sedangakan tanggung jawab “bagi” orang lain berarti karena kehadiran orang lain seakan-akan membuat saya “tertuduh” atau “tersandera” olehnya sehingga saya bertanggung jawab baginya.[19]

Tanggung jawab “untuk” orang lain tidak menunggu kebebasan yang semestinya untuk membuat komitmen kepada orang lain. Saya tidak berbuat sesuatupun saya sudah dalam situasi untuk bertanggung jawab. Dalam situasi ini, saya sama sekali pasif karena telah mendahului kemungkinan untuk bertindak aktif. Terhadap orang lain itu saya tidak dapat apa-apa maka saya “disandera” yang memungkinkan diri bertanggung jawab atasnya padahal saya belum mengambil sikap apapun terhadap dia.[20]

Berhadapan dengan orang, Levinas cenderung menekankan tanggung jawab “untuk” karena didasari beberapa alasan yaitu, pertama, tanggung jawab untuk orang lain bertujuan demi suatu hubungan intersubjektif. Kedua, substitusi dalam proses menjadi. Ini berarti, ketika aku melihat Yang Lain sama dengan diriku, maka muncul inisiatif dari diriku untuk bertanggungjawab terhadapnya. Dengan demikian, muncul satu hubungan yang bebas karena apa yang saya lakukan muncul dari kebebasanku sendiri.[21]

3.3. Aku Untuk Yang Lain

Tanggung jawab adalah suatu kenyataan karena setiap kali aku bertemu orang lain terjadi sesuatu yang mendasar yakni aku jadi bertanggung jawab atasnya.[22] Orang lain hadir dalam epifani wajah yang telanjang dan luhur sekaligus mengandung undangan etis untuk bertanggung jawab. Pendasarannya jelas bagi Levinas, ketika aku berhadapan dengan orang lain itu, aku tidak bebas lagi. Tanggung jawab untuk Yang Lain adalah tempat aku meletakan subjektivitasku. Aku akan senantiasa bertanggung jawab dan wajah yang polos dan telanjang akan terus mengantar aku keluar dari kesadaranku. Levinas menegaskan bahwa aku menjadi sadar akan diriku ketika aku disandera dan di saat itulah aku menjadi semakin unik. Aku tak tergantikan karena aku, hanya aku, bertanggung jawab atas orang lain. Saat aku bertanggung  jawab atas orang lain, saya mengambil tempatnya.

3.4. Aku Mengadakan Yang Lain

Tanggung jawab terhadap orang lain memberi makna yang dalam bagi relasi intersubyektif. Yang Lain memberi pengakuannya sebagai subyek lewat tanggung jawabnya kepada aku. Begitupun sebaliknya, aku dengan segala subyektifitas yang ada dalam diriku mutlak bertanggungjawab terhadap yang lain. Ekspresi “untuk” dalam frase “tanggung jawab untuk yang lain” adalah suatu akses menuju kepada Yang Lain.[23] Segala aspek dalam diri kita keluar untuk menyadari ada Yang Lain sebagai subyek yang otonom. Penyadaran ini bukan sekedar menyadarkan bahwa Yang Lain adalah sebuah fenomen yang tampak, melainkan lebih dari pada itu dia adalah aku Yang Lain.

Kesadaran ini kemudian membawa aku keluar dari diri dan sikap ingat diri. Aku diperingati oleh yang lain bahwa aku bukan ukuran atau standart bagi oramg lain tetapi sebaliknya dengan penampakan wajah dari Yang Lain memberi sengatan kepada otonomiku. Gangguan ini memberikan inspirasi untuk bertanggungjawab dengan etis yang heteronom.[24] Ini berarti tanggung jawab yang terjadi karena kehadiran Yang Lain dalam penampakannya.

3.5. Tanggung Jawab dan Keadilan

Keadilan menjadi salah satu hal penting dalam bertanggung jawab. Peristiwa di mana aku berhadapan dengan orang lain adalah etika perimordial tanggung jawab. Yang Lain adalah orang lain yang begitu banyak sehingga aku tidak dapat memberikan diri secara total kepaada sesorang. Kenyataan ini memberikan tuntutan untuk bersikap adil. Keadilan memuat makna untuk menghilangkan perbedaan antara begitu banyak Yang Lain dihadapan kita. Keberpihakan akan menimbulkan alienasi pihak lain dan memberi batasan kepada Yang Lain.

Levinas menegaskan bahwa kemungkinan untuk bersikap adil, untuk memperbantukan diri kepada orang-orang lain, tetap berakar dalam kebaikan primordial yang mendasari segenap sikap saya.[25] Sikap itu dihayati kembali setiap saat ketika berhadapan dengan orang lain di mana terhadapnya aku bertanggungjawab. Seorang tidak bisa lari dari kenyataan ini. Inilah tantangan untuk bersikap adil.

BAB IV

Penutup

Tanggung jawab adalah aspek penting dalam kehidupan sosial. Melalui tanggung jawab aku senantiasa bereksistensi. Aku senantiasa berada bersama orang lain dan terarah kepada orang lain. Saat inilah aku menyadari bahwa aku bukan pusat, sentral dari segala aktifitas pemaknaan hidupku. Pemaknaan akan diriku baru terlaksana saat aku dan yang lain berhadapan. Aku dan Yang Lain akan saling mengadakan satu sama lain. Hal demikian terjadi ketika aku bertanggung jawab. Aku menjadi aku ketika keegoisanku keluar dan bertanggung jawab untuk Yang Lain. Hal ini merupakan keterbukaan subyek terhadap Yang Lain tetapi bukan satu keterbukaan total. Aku selalu bersama mereka Yang Lain.

Aku yang bertanggung jawab untuk Yang Lain adalah subyek yang menerima dan menghargai Yang Lain dengan keberlainannya. Aku membuka diri bagi keunikan Yang Lain dalam tanggung jawabku. Pereduksian Yang Lain sebagai objek ditanggulangi dengan sebuah kerelaan untuk menjawabi undangan etis dari kepolosan dan ketelanjangan yang lain. Aku makin mengada tatkala yang lain menyambut sapaan kita. Cogito ergo sum milik Descartes bisa diganti dengan Respondeo ergo sum ( aku bertanggung jawab, jadi aku ada).[26]

DAFTAR PUSTAKA

  1. A. Kamus

Bagus, L. Kamus Filsafat. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Hasan, Fuad. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1988

  1. B. Buku-Buku

Baghi,  Felix dan Frans Ceunfin, (Ed).Mengabdi Kebenaran. Maumere: Ledalero, 2005

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: Gramedia, 2001

Lechte, John. 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme Sampai Posmodernitas.Yogyakarta: Kanisius, 2007

Ohoitimur, Johanis. Metafisika Sebagai Hermeneutika.Jakarta: Obor, 2006

Peperzek, Adrian T. Ethics as First Philosophy: The Significance of Emmanuel Levinas for Philosophy, Literature, and Religion. New York and London: Rutledge, 1995.

Suseno,Franz-Magnis. Etika Abad ke-20: 12 Tokoh Kunci. Yogyakarta: Kanisius, 2006

————————–.12 Tokoh Etika abad ke-20.Yogyakarta: Kanisius, 2000


[1] Franz-Magnis Suseno, Etika Abad ke-20: 12 Tokoh Kunci (Yogyakarta: Kanisius, 2006), p.99.

[2] Ibid., p.88.

[3] Franz-Magniz Suseno, 12 Tokoh Etika abad ke-20, (Yogyakarta:Kanisius, 2000), p.89.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Dr.Johanis Ohoitimur, MSC Metafisika Sebagai Hermeneutika (Jakarta: Obor, 2006), p.34.

[7]John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme Sampai Posmodernitas (Yogyakarta: Kanisius, 2007), p.188.

[8] Felix Baghi, Emmanuel Levinas: Dia Yang Lain Dalam Relasi Etis Asimetris, VOX 36 (1991), p.34.

[9] Franz-Magnis Suseno, Op. Cit., p.97.

[10] Felix Baghi dan Frans Ceunfin (ed.) ., Mengabdi Kebenaran (Maumere: Ledalero, 2005),  p.141.

[11] Ibid., p.142

[12] Ibid., p.143

[13] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Prancis (Jakarta: Gramedia, 2001), p.289.

[14] Ibid., p.290.

[15] Baghi, Op. Cit., p. 35

[16]Fuad Hasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Jakarta: Balai Pustaka, 1988),  p.1139.

[17]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2002),  pp.1066-1067.

[18] Adrian T. Peperzek, Ethics As First Philosophy: The Significance Of Emmanuel Levinas For Philosophy, Literature, And Religion (New York and London: Rutledge, 1995), pp.43-44.

[19] Ibid., p.49.

[20] Franz-Magnis Suseno, Op.Cit., p. 99.

[21] Andrian T .Op.Cit., pp.44-49.

[22] Ibid., p. 89.

[23] Baghi, Op. Cit., p.152.

[24] Ibid., pp. 152-153.

[25] Suseno, Op. Cit., p.104.

[26] K. Bertens, Op. Cit., p. 195.

Hello world!


Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.